|
|
|
Kunjungan ke Pabrik Kertas Jawa Pos Pada hari Selasa tanggal 8 November 2011 lalu, kami para siswa kelas VI SD Kristen Petra 5 mendapatakan kesempatan berharga untuk berkunjung ke salah satu cabang pembuatan dan percetakan koran Jawa Pos yang berlokasi di Kabupaten Gresik, tepatnya di Jl. Raya Sumengko km 30-31. Di sana kami dapat mengamati proses percetakan dan menggali informasi secara langsung, misalnya tentang sejarah Jawa Pos hingga bisa mencapai sukses seperti sekarang. Perjalanan yang dilalui Jawa Pos tidaklah semulus yang dibayangkan. Pada awalnya, Jawa Pos didirikan oleh The Sung Chen pada tanggal 1 Juli 1949 dengan nama Djawa Post. Namun pada tahun 1970, omzet Djawa Post mengalami kemerosotan yang tajam. Nasib Djawa Post kemudian berubah setelah diambil alih oleh Eric FH Samola, yang sebelumnya menjabat sebagai Direktur Utama PT. Grafiti Pers (penerbit majalah Tempo). Eric Samola mengubah nama Djawa Post menjadi Jawa Pos, kemudian membentuk tim manajemen yang baru dan mengangkat Dahlan Iskan sebagai pemimpin Jawa Pos. Dahlan Iskan merupakan titik tolak Jawa Pos karena pada masa kepemimpinannya inilah omzet Jawa Pos yang semula hampir mati dengan oplah hanya sekitar 6.000 eksemplar, dalam waktu 5 tahun mampu menjadi surat kabar dengan oplah sebanyak 300.000 eksemplar. Setelah menuai keberhasilan, Jawa Pos terus melaju hingga 5 tahun kemudian terbentuklah Jawa Pos News Network (JPNN), salah satu jaringan surat kabar terbesar di Indonesia. Kemudian pada tahun 1997, Jawa Pos pun pindah ke gedung yang baru, yaitu Graha Pena, salah satu gedung pencakar langit di Surabaya. Saat ini sudah banyak bermunculan gedung-gedung Graha Pena di hampir semua wilayah di Indonesia. Jawa Pos memiliki 8 cabang dari Jakarta sampai Bali. Tidak hanya sukses yang berhasil diraih oleh Jawa Pos, namun juga penghargaan. Jawa Pos mendapatkan penghargaan dalam Indonesia Best Brand Award 2007 dan dikukuhkan sebagai koran anak muda dunia dengan predikat “Newspaper of The Year” oleh World Young Reader Prize pada bulan Oktober 2011. Setelah mendengarkan sejarah dan perjalanan Jawa Pos, kami kemudian diajak untuk mengamati proses pembuatan kertas yang digunakan sebagai kertas koran Jawa Pos. Adakah yang tahu dari mana asal kertas koran? Yup! Kertas koran berasal dari pinus. Tetapi selain itu, Jawa Pos juga melakukan daur ulang kertas bekas yang didapat dari 80% impor dari Eropa, Australia, dan Amerika serta 20% dari lokal. Kertas-kertas impor dihancurkan dan harus melalu penyortiran untuk memisahkan kertasnya dari kotoran-kotoran yang menempel. Setelah selesai disortir, kertas dikeringkan dengan menggunakan dry processor, lalu dihaluskan dan diberi warna, baru kemudian dapat digunakan untuk mencetak berita. Koran yang telah dicetak baru dapat dikirim ke konsumen oleh para pengantar koran. Setelah menyimak penjelasan tersebut, kami mendapat kesempatan untuk melihat mesin-mesin yang digunakan oleh Jawa Pos. Di sekitar mesin sudah ada garis kuning, di mana garis itu merupakan garis batas untuk kami diperkenankan melihat mesin-mesin tersebut. Usai melakukan observasi, kami diberi kesempatan untuk mengajukan pertanyaan. Wah, senang sekali rasanya. Melalui kegiatan kunjungan ini kami mendapatkan banyak informasi dan pengetahuan yang semakin memperluas wawasan kami. |
