| - |
Tanggal 27 Desember 1949, Pemerintah Hindia Belanda secara resmi menyerahkan kedaulatan kepada Pemerintah Republik Indonesia. Sejarah mencatat bahwa peristiwa tersebut menjadi tonggak sejarah di bidang pendidikan, di mana sejak saat itu bahasa Indonesia wajib menjadi bahasa pengantar dalam proses pembelajaran.
|
| - |
Secara umum, pada masa-masa tersebut terjadi kekosongan sekolah-sekolah menengah di Surabaya. Keadaan ini menggugah hati tujuh orang anggota Gereja Tiong Hoa Kie Tok Kauw Hwee Khoe Hwee (THKTKH KH), Jawa Timur dan Gereja Gereformeed Surabaya (GGS), yaitu: Sdr. Bhe Hok Liong, Sdr. Gouw Loe Liong, Sdr. Lie long Liang, Sdr. Liem Siauw Giap, Sdr. Oey Koen Heng, dan drg. Tan Gie Djien dari Gereja THKTKH KH Jawa Timur, serta Sdr. Kwee Djien Kian dari GGS.
|
| - |
Pada tanggal 31 Maret 1951, ketujuh orang pemrakarsa sepakat untuk membentuk Panitia Persiapan Badan Pendidikan Kristen Surabaya (PBPKS), yang bertugas untuk mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan erat dengan cetusan untuk mendirikan Sekolah Menengah Kristen, dengan memenuhi ketentuan: berdasarkan Alkitab, berbahasa pengantar bahasa Indonesia, dan pembukaan diharapkan mulai tanggal 1 Agustus 1951, dengan susunan sebagai berikut:
- Ketua : Sdr. Gouw Loe Liong
- Penulis : Sdr. Gwee Djien Kian
- Anggota (bidang organisasi) : drg. Tan Gie Djien
- Anggota (bidang keuangan) : Sdr. Oey Koen Heng
- Anggota (bidang komunikasi) : Sdr. Lie Tong Liang
|
| - |
Pada tanggal 22 April 1951, dibentuklah Badan Pendidikan dan Pengajaran Kristen Tiong Hoa Kie Tok Kauw Hwee (BPPK THKTKH), Surabaya, sebagai bagian cabang dari Tiong Hoa Kie Tok Kauw Hwee Bagian Pendidikan Jawa Timur, dan tanggal ini ditetapkan sebagai hari lahir PPPK Petra.
|
|