|
|
|
Berjuang dalam Tekanan
Malam itu, aku terbangun dan langsung tergerak untuk berdoa untuk kemenangan tim kami. Itu karena aku menerima SMS dari kapten tim kami, Michael Christiano (IX-8), semalam menjelang pertandingan kami pada final Lomba Bola Basket Putra dalam Petra Cup 2011. Teman-teman yang lain, seperti Kevin Jayaputra (IX-7), Albert Giovanni (IX-5), Gregorious Gery G. (IX-2), Gabriel Reynard (IX-1), dan Aristo (VIII-2), juga melakukan hal yang sama. Tak ketinggalan juga, ‘junior-junior’ kami, Patrick Layadi (VIII-5), Joshua Hebert (VIII-4), Ricky Agustinus (VIII-2), dan Ricky Jayaputra (VII-8). Hari bertanding pun tiba. Aku merasa siap dan yakin tim kami bakal memenangkan pertandingan kali ini. Alasannya... kami mempunyai pengalaman bertanding melawan SMP Kristen Petra 2 di ajang pertandingan bola basket lain sebelumnya, dan berhasil memenangkannya. Selain itu, kami juga yakin karena berbekal kemenangan atas SMP Kristen Petra 4 pada babak semifinal, dengan skor 41-17, pada 18 Januari 2011. Namun, perasaan yang sama tidak ditunjukkan oleh Michael dan Kevin, dua penyumbang poin terbanyak di tim kami. Mereka terlihat gugup dan gelisah, wajah mereka tampak pucat karena saking tegangnya. Tetapi... kami membawa segala kekhawatiran kami dalam doa, dan menyerahkannya kepada Tuhan. Pertandingan pun akhirnya dimulai. Saat itu, kami sudah tidak dapat mundur, dan harus siap menghadapi apa pun yang terjadi. Menang atau kalah, kami pasrah. Kemudian, kami memasuki lapangan dengan hati yang mantap. Pada awalnya, kami sempat tertekan karena melihat kelincahan yang luar biasa dari para pemain Petra 2. Mereka bermain dengan semangat yang tinggi, karena sedang bermain di ‘rumah’ sendiri. Bahkan, mereka pun sudah mengalahkan dua tim tangguh lainnya, yaitu SMP Kristen Petra 1 dan SMP Kristen Petra 5. Pertandingan berjalan dengan sangat seru. Setelah dua menit, kami mendapat poin pertama yang disumbangkan oleh Kevin melalui fast break-nya. Hal itu membakar semangat tim kami. Dia melakukan lay-up tanpa kawalan pemain lawan, dan kami pun unggul pada empat poin pertama. Selanjutnya, pertandingan berjalan dengan cukup sengit. Kedua tim bersaing memperebutkan poin, hingga akhirnya kami menutup half pertama dengan skor 22-12. Sampai di situ, kami belum boleh merasa berpuas diri, karena perjuangan masih panjang. Pelatih kami memimpin doa sebelum kami turun kembali ke lapangan. Pada pertengahan half kedua, kami menjauh dengan skor 38-18. Suara suporter kedua tim terus terngiang di telinga kami, dan hal itu cukup menggoncang konsentrasi kami. Pada menit-menit terakhir, tim lawan mengejar perolehan angka dengan sangat cepat, namun kami terus berusaha untuk mempertahankan keunggulan sampai peluit tanda berakhirnya pertandingan dibunyikan. Akhirnya... kami berhasil menang dengan skor 42-30. Kami berterima kasih kepada teman-teman dan para guru yang telah mendukung kami, khususnya pelatih kami yang terkasih, Ibu Delores Poetiray. Terlebih dari itu, kami bersyukur kepada Tuhan atas karunia kemenangan ini. Sebab, tanpa Dia ... kami bukan apa-apa. |

