Harga Tandan Buah Segar (TBS) sawit di Provinsi Sumatera Utara mengalami penurunan dalam pekan ini, dengan Kabupaten Mandailing Natal (Madina) mencatat harga tertinggi sebesar Rp3.400 per kilogram. Sementara itu, harga terendah terlihat di Kabupaten Deli Serdang, yang mencapai Rp2.870 per kilogram. Penurunan harga ini menjadi perhatian bagi para petani sawit, terutama dalam konteks pasar yang berfluktuasi.
Penurunan Harga TBS Sawit di Sumut
Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Sumut, Gus Dalhari Harahap, mengungkapkan bahwa hampir seluruh daerah penghasil sawit di Sumatera Utara mengalami penurunan harga TBS. Menurutnya, meskipun penurunan ini tidak signifikan, dampaknya tetap dirasakan oleh para petani.
“Pekan ini memang ada penurunan hampir di semua daerah penghasil. Meskipun angkanya tidak terlalu besar,” ungkap Gus Dalhari Harahap dalam pernyataannya pada Kamis, 10 September 2026.
Rentang Harga TBS di Berbagai Daerah
Dalam pemantauan harga TBS di 15 daerah penghasil sawit di Sumut, rentang harga pekan ini berkisar antara Rp2.870 hingga Rp3.400 per kilogram. Jika dibandingkan dengan pekan sebelumnya, harga TBS berada pada kisaran yang lebih tinggi, yaitu Rp2.950 hingga Rp3.500 per kilogram.
Berikut adalah rincian harga TBS di beberapa daerah penghasil sawit di Sumut:
- Langkat: Rp3.165/kg
- Deli Serdang: Rp2.870/kg
- Serdang Bedagai: Rp3.335/kg
- Simalungun: Rp2.975/kg
- Batubara: Rp2.950/kg
- Asahan: Rp2.950/kg
- Labuhanbatu Utara: Rp2.880/kg
- Labuhanbatu: Rp2.970/kg
- Labuhanbatu Selatan: Rp3.000/kg
- Padanglawas Utara: Rp3.200/kg
- Padanglawas: Rp3.100/kg
- Tapanuli Selatan: Rp2.965/kg
- Tapanuli Tengah: Rp2.950/kg
- Mandailing Natal: Rp3.400/kg
- Pakpak Bharat: Rp2.950/kg
Harga Minyak Sawit dan Kernel
Dalam rapat yang diadakan oleh Tim Penetapan Harga TBS Kelapa Sawit Produksi Mitra Plasma Provinsi Sumut pada Rabu, 9 September 2026, ditetapkan bahwa rata-rata harga minyak sawit mentah (CPO) untuk produk lokal dan ekspor adalah Rp16.244,53 per kilogram, tidak termasuk pajak pertambahan nilai (PPN). Sementara itu, harga rata-rata kernel untuk produk lokal ditetapkan sebesar Rp13.883,94 per kilogram, juga tidak termasuk PPN.
Faktor indeks “K” yang digunakan dalam perhitungan harga TBS ditetapkan sebesar 93,74%. Hal ini menjadi salah satu komponen penting dalam menentukan harga yang diterima oleh para petani sawit.
Perbedaan Skema Harga TBS
Penting untuk memahami perbedaan skema harga antara TBS yang dihasilkan oleh petani swadaya dan TBS yang diproduksi oleh mitra plasma. Kedua jenis TBS ini memiliki dasar penetapan harga yang berbeda. Data yang disediakan oleh Apkasindo mencerminkan harga TBS di daerah penghasil, sedangkan hasil rapat Tim Penetapan Harga lebih mengacu pada produksi mitra plasma.
Perbedaan ini bisa memengaruhi pendapatan petani, sehingga penting bagi mereka untuk tetap memantau perkembangan harga dan memahami mekanisme yang berlaku di pasar.
Dampak Penurunan Harga TBS bagi Petani
Penurunan harga TBS tentu saja berpengaruh pada pendapatan petani sawit. Dengan harga yang berfluktuasi, para petani harus dapat mengelola biaya produksi dan memaksimalkan hasil dari kebun mereka. Tantangan ini menjadi semakin berat ketika harga TBS berada pada titik terendah, seperti yang terjadi saat ini.
Para petani perlu mengambil langkah strategis untuk menghadapi kondisi pasar yang tidak menentu. Beberapa opsi yang dapat dipertimbangkan antara lain:
- Meningkatkan kualitas TBS yang dihasilkan untuk mendapatkan harga yang lebih baik.
- Berinovasi dalam teknik budidaya sawit.
- Mencari pasaran alternatif untuk menjual produk mereka.
- Mengikuti pelatihan dan workshop untuk meningkatkan pengetahuan tentang pengelolaan kebun.
- Berpartisipasi dalam asosiasi petani untuk mendapatkan dukungan dan informasi yang lebih baik.
Peluang di Tengah Tantangan
Meskipun harga TBS mengalami penurunan, masih ada peluang bagi para petani untuk meningkatkan pendapatan mereka. Salah satu pendekatan yang bisa diambil adalah diversifikasi produk, seperti memanfaatkan limbah sawit untuk produk bernilai tambah, seperti biodiesel atau pakan ternak.
Dengan pendekatan yang tepat, petani dapat memanfaatkan seluruh potensi dari kebun sawit mereka. Selain itu, kolaborasi dengan lembaga penelitian dan universitas dapat membuka jalan bagi inovasi dan peningkatan produktivitas.
Kesimpulan
Situasi harga TBS di Sumut menunjukkan dinamika pasar yang tidak dapat diprediksi. Para petani harus siap menghadapi penurunan harga sambil terus beradaptasi dan mencari peluang baru. Dengan meningkatkan kualitas produk dan diversifikasi usaha, petani sawit di Sumatera Utara dapat menghadapi tantangan dan meraih kesuksesan dalam industri ini.
➡️ Baca Juga: Mavenir Raih Penghargaan President’s Honor di MSUA Satellite Mobile Innovation Awards 2026
➡️ Baca Juga: Membangun Komunitas yang Berkelanjutan: Langkah-langkah Praktis

