Kota Balikpapan kini menghadapi tantangan serius dengan meningkatnya kasus gangguan pernapasan yang mencuat sepanjang Agustus 2026. Musim kemarau yang berkepanjangan telah memicu terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla), sehingga kualitas udara di wilayah ini semakin memburuk. Situasi ini mengharuskan warga untuk lebih waspada terhadap kesehatan sistem pernapasan mereka.
Pentingnya Kesadaran Terhadap Kualitas Udara
Kepala Dinas Kesehatan Kota Balikpapan, Alwiati, menegaskan bahwa paparan asap dari kebakaran hutan membawa risiko yang signifikan bagi kesehatan pernapasan masyarakat. Dia menekankan pentingnya kewaspadaan di tengah kondisi udara yang memburuk, terutama ketika kabut asap mulai menyelimuti kota.
“Masyarakat harus lebih berhati-hati terhadap kondisi udara, khususnya saat kabut asap muncul akibat kebakaran hutan. Paparan asap ini tidak boleh dianggap sepele, karena dapat mengakibatkan gangguan serius pada saluran pernapasan,” ungkap Alwiati pada Selasa, 1 September 2026.
Statistik Kenaikan Kasus Gangguan Pernapasan
Data terbaru dari Dinas Kesehatan Balikpapan menunjukkan adanya lonjakan signifikan pada beberapa jenis penyakit pernapasan antara Juli dan Agustus 2026. Berikut adalah rincian statistik tersebut:
- Common Cold / Acute Nasopharyngitis (J00): Meningkat 7,2% (419 kasus), dari 5.861 menjadi 6.280 kasus.
- Acute Pharyngitis (J02): Meningkat 14,7% (252 kasus), dari 1.714 menjadi 1.966 kasus.
- Acute Upper Respiratory Infection / ISPA Unspecified (J06.9): Meroket hingga 19,8% (225 kasus), dari 1.136 menjadi 1.361 kasus.
Langkah Mitigasi bagi Warga
Untuk mengantisipasi keluhan yang berkaitan dengan pernapasan seperti batuk dan sesak napas, Dinas Kesehatan menghimbau kepada masyarakat untuk membatasi aktivitas di luar ruangan dan secara rutin menggunakan masker. Hal ini penting untuk mengurangi dampak paparan asap yang dapat berbahaya bagi kesehatan.
“Jika tidak ada urusan penting, sebaiknya kurangi aktivitas di luar rumah. Apabila terpaksa beraktivitas di luar, pastikan untuk menggunakan masker dengan benar agar bisa meminimalisir paparan asap,” jelas Alwiati.
Pentingnya Hidrasi dan Kesehatan Pribadi
Selain itu, warga juga diimbau untuk lebih banyak mengonsumsi air putih, menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS), serta tidak menunda untuk berkunjung ke fasilitas kesehatan jika merasakan gejala yang mengkhawatirkan.
“Apabila mulai merasakan gejala seperti batuk, sakit tenggorokan, atau gangguan pernapasan lainnya, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan. Jangan tunggu hingga kondisi semakin parah,” tegas Alwiati, menekankan pentingnya tindakan cepat dalam penanganan kesehatan.
Peran Masyarakat dalam Pencegahan
Selain menjaga kesehatan pribadi, Alwiati juga mengingatkan warga untuk aktif berpartisipasi dalam menjaga lingkungan. Pembakaran lahan yang dilakukan oleh individu atau kelompok dapat memperburuk polusi udara yang sudah ada.
“Pencegahan tidak hanya perlu dilakukan setelah munculnya gejala. Masyarakat juga harus berkontribusi dalam menjaga lingkungan dan menghindari aktivitas yang dapat memicu kebakaran atau memperburuk kualitas udara,” ungkapnya lebih lanjut.
Kesadaran kolektif dan tindakan preventif adalah kunci dalam menghadapi masalah gangguan pernapasan yang disebabkan oleh kabut asap. Dengan langkah-langkah yang tepat, diharapkan kesehatan masyarakat dapat terlindungi, dan kualitas udara di Balikpapan dapat diperbaiki.
➡️ Baca Juga: Sekda M. Nasir Gelar Forum Konsultasi Publik RKPA 2027 untuk Mendorong Sinergi Pembangunan Pusat-Daerah
➡️ Baca Juga: Strategi Efektif Menjaga Kesehatan Tulang dan Sendi dengan Asupan Kalsium yang Cukup

