Bupati Roby Instruksikan OPD untuk Gotong-Royong Salurkan Air Bersih dalam Respons Kekeringan

Kekeringan yang melanda Kabupaten Bintan, termasuk pulau Bintan secara keseluruhan, telah menimbulkan dampak serius terhadap pasokan air bersih. Musim kemarau yang berkepanjangan, ditambah dengan hampir tidak adanya curah hujan sejak awal tahun lalu, menyebabkan waduk-waduk yang menjadi sumber utama air bersih dari PDAM mengalami penurunan volume yang signifikan, bahkan salah satu di antaranya mengalami kekeringan total.
Kondisi Kekeringan di Bintan
Menurut data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kekeringan meteorologis di pulau Bintan telah tercatat sejak tahun 1997. Rekapitulasi BMKG menunjukkan bahwa fenomena kekeringan ini terjadi pada tahun-tahun tertentu, termasuk 2010, 2014, 2015, 2019, dan 2020, serta saat ini pada tahun 2023. Tahun ini dikategorikan sebagai salah satu tahun terparah, dengan kondisi mirip yang terjadi pada 1997 dan 2015.
Secara geografis, Bintan memang memiliki pola curah hujan yang rendah, biasanya dimulai pada bulan Februari hingga Maret, dan kembali normal pada bulan April hingga Mei. Fluktuasi cuaca ini menjadi penyebab utama berkurangnya volume air di waduk-waduk, serta menurunnya ketersediaan air tanah di sumur-sumur milik warga.
Tanggapan Bupati Bintan
Menanggapi situasi kritis ini, Bupati Bintan Roby Kurniawan mengadakan Rapat Koordinasi dengan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (FKPD) dan berbagai sektor terkait. Dalam pertemuan tersebut, Roby memberikan instruksi untuk segera mengambil tindakan. Ia meminta seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk bekerja sama dalam menyalurkan air bersih kepada masyarakat yang terdampak.
“Saya minta agar setiap OPD segera dibagi tanggung jawabnya per kecamatan. Harus ada skema penyaluran yang jelas, dan Camat serta Lurah perlu memperbarui data mengenai warga yang terkena dampak. Mari kita kolaborasikan dengan Babinsa dan Bhabinkamtibmas, serta sektor lainnya di lapangan,” ujar Roby saat memberikan arahan pada Rabu, 25 Maret, di Ruang Rapat II Kantor Bupati Bintan.
Strategi Penyaluran Air Bersih
Proses penyaluran air bersih nantinya akan memanfaatkan sarana dan prasarana yang ada, serta dukungan dari pihak luar, termasuk sektor swasta. Hal ini penting untuk memastikan bahwa semua warga yang membutuhkan dapat mendapatkan akses terhadap air bersih dengan cepat.
“Kita masih memiliki sumber air alternatif selain dari PDAM. Manfaatkan semua potensi yang ada, ini adalah langkah jangka pendek yang harus segera diambil,” tambah Roby, menekankan pentingnya memaksimalkan semua sumber daya yang tersedia.
Data Terkait Dampak Kekeringan
Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bintan mencatat bahwa hingga saat ini, sekitar 24.479 kepala keluarga (KK) terpengaruh oleh kekeringan dan mengalami kesulitan dalam mendapatkan air bersih. Situasi ini tersebar di seluruh kecamatan, kecuali Kecamatan Mantang dan Kecamatan Tambelan yang masih dapat mengelola kebutuhan air bersih dengan baik.
Usaha Modifikasi Cuaca
Selain upaya penyaluran air bersih, Roby juga menyampaikan dukungan terhadap usulan modifikasi cuaca sebagai bagian dari langkah mitigasi. Ia mengarahkan seluruh Camat untuk bersama masyarakat melaksanakan salat Istisqa, yaitu salat sunnah yang dilakukan untuk memohon hujan, sebagai pelengkap dari usaha yang telah dilakukan.
“Kita akan mengoptimalkan penyaluran air bersih melalui jalur darat, dan jika memungkinkan, kita juga akan mempertimbangkan modifikasi cuaca melalui jalur udara. Selanjutnya, kita akan melengkapi ikhtiar kita dengan salat Istisqa. Kita akan mulai di Kantor Bupati dahulu, kemudian dilanjutkan di kecamatan-kecamatan lainnya. Kita berdoa agar semua usaha kita ini dikabulkan dan kondisi bisa kembali normal,” tutup Roby.
➡️ Baca Juga: Peneliti UPER Dapat Pendanaan RIIM KI untuk Kembangkan Kendaraan Otonom Logistik dan Atasi Distribusi Barang
➡️ Baca Juga: PalmCo Luncurkan Safari Ramadan di 7 Provinsi untuk Konsolidasi dan Meningkatkan Integritas Karyawan
